Cara menghitung lembur karyawan perlu dimulai dari data waktu kerja yang jelas sebelum menentukan nilai upah tambahan. HR perlu mengetahui jadwal reguler, durasi pekerjaan tambahan, dan dasar upah yang digunakan agar hasil perhitungan tidak berasal dari perkiraan.
Dalam praktiknya, waktu pulang yang lebih lambat belum tentu seluruhnya menjadi lembur. Perusahaan perlu memeriksa informasi pekerjaan tambahan dan menyesuaikannya dengan prosedur yang berlaku. Langkah ini membantu HR mendapatkan jumlah jam yang lebih akurat.
Setelah durasi lembur terverifikasi, HR dapat menentukan nilai upah per jam berdasarkan dasar serta formula yang berlaku. Selanjutnya, perusahaan dapat menghitung nominal lembur sesuai jumlah jam dan kondisi pelaksanaannya.
Tentukan Jumlah Jam Lembur Karyawan
Langkah pertama adalah membandingkan jadwal reguler dengan waktu pekerjaan tambahan yang telah terverifikasi. Sebagai contoh, seorang karyawan memiliki jadwal kerja sampai pukul 17.00 dan menyelesaikan lembur pada pukul 19.00.
Secara sederhana, durasi waktunya dapat dihitung:
19.00 – 17.00 = 2 jam
Dengan demikian, terdapat dua jam tambahan sebagai data awal. HR tetap perlu memastikan bahwa seluruh durasi tersebut memenuhi kriteria lembur sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Perusahaan dapat memanfaatkan aplikasi absensi online untuk membantu mencatat waktu masuk, pulang, dan jadwal karyawan. Data tersebut mempermudah proses pencocokan sebelum HR melanjutkan ke tahap perhitungan upah.
Pemeriksaan ini juga membantu mencegah kesalahan ketika karyawan berada di tempat kerja lebih lama tetapi tidak seluruh waktunya termasuk aktivitas lembur.
Hitung Nilai Berdasarkan Durasi Lembur
Setelah mengetahui jumlah jam, HR dapat melanjutkan penghitungan lembur menggunakan nilai upah per jam yang sudah ditentukan berdasarkan dasar dan formula yang sesuai ketentuan.
Sebagai ilustrasi sederhana, anggap nilai upah lembur per jam yang telah diperoleh dari formula yang berlaku adalah Rp40.000. Karyawan memiliki dua jam lembur yang sudah terverifikasi.
Maka simulasi sederhananya:
Nilai per jam = Rp40.000
Durasi lembur = 2 jam
Rp40.000 × 2 = Rp80.000
Berdasarkan simulasi tersebut, nilai yang diperoleh adalah Rp80.000. Angka Rp40.000 dalam contoh ini hanya digunakan untuk menunjukkan alur perhitungan, bukan sebagai nilai upah lembur yang berlaku untuk seluruh karyawan.
Pada praktik sebenarnya, HR perlu menentukan nilai upah per jam serta menerapkan formula sesuai kondisi lembur dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
Jumlahkan Hasil dalam Satu Periode Payroll
Perhitungan menjadi lebih panjang ketika karyawan melakukan lembur beberapa kali. Oleh karena itu, HR sebaiknya membuat rincian berdasarkan tanggal sebelum menentukan total pada akhir periode.
Misalnya, dari hasil perhitungan sesuai formula yang berlaku, seorang karyawan memperoleh:
Senin = Rp80.000
Rabu = Rp40.000
Jumat = Rp80.000
Maka total ilustrasinya:
Rp80.000 + Rp40.000 + Rp80.000 = Rp200.000
Dengan demikian, total nilai dari tiga catatan tersebut adalah Rp200.000 berdasarkan asumsi contoh.
HR sebaiknya tetap menyimpan rincian setiap tanggal. Jangan hanya menyimpan angka Rp200.000 karena rincian tersebut membantu tim memeriksa kembali sumber nominal ketika menemukan perbedaan data.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan setiap catatan masuk ke periode payroll yang benar. Cara ini membantu menghindari pembayaran ganda atau lembur yang tertinggal dari penggajian.
Kesimpulan
Cara menghitung lembur karyawan dimulai dengan menentukan durasi yang terverifikasi, menentukan nilai upah lembur berdasarkan formula yang berlaku, kemudian menghitung dan merekap hasilnya.
Sebagai ilustrasi, jika nilai yang sudah diperoleh adalah Rp40.000 per jam dan durasi lembur dua jam, perhitungan sederhananya menghasilkan Rp80.000. Namun, perusahaan tetap perlu menentukan dasar upah serta formula lembur sesuai ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku agar hasil akhirnya sesuai dengan kondisi sebenarnya.

